Pengumpan:
Tulisan
Komentar

pemakaman di kampung raja

umbu manna

umbu manna mengabarkan bahwa upacara pemakaman di kampung raja kemaren itu [14-15 september 2006] melibatkan 5000-6000an tamu , itu pun masih ada 4 rombongan yang karena perjalanannya jauh tidak bisa datang pas upacara, hanya mewakilkan utusannya saja.

ada 6 ekor kuda yang dikurbankan, 3 ekor kerbau, 5 ekor sapi dan 33 ekor babi..!

upacara kematian bukan sembarang upacara.

mati tidak sekadar tiadanya nyawa seseorang namun juga masalah solidaritas kekerabatan. matinya seseorang justru menjadi sarana bagi tampilnya dan diperkuatnya lagi ikatan antar keluarga.

aksi puasa pembangunan

yang ingin tahu lebih lanjut, termasuk kekeliruan dalam memahami APP silakan klik blog dari keuskupan agung semarang ini.

http://appkas.blogspot.com/

tektonika sumba

memang pada dasarnya semua sistem sambungan di rumah sumba adalah portal, kecuali untuk atap. struktur atap mengandalkan ikatan baik ikatan dari alang-alang penutup atap ke rangka bambu maupun rangka bambu itu ke struktur utama rumah yang berupa komposisi empat buah portal yang membentuk semacam sakaguru dalam struktur rumah jawa. berbeda dari saka guru jawa yang terbangun dari empat tiang dengan pengakuan di kapitalnya[ jadi, keempatnya membentuk satu kesatuan yang solid], sedangkan sistem sumba itu terjadi dari dua pasang portal yang ditumpangi oleh dua pasang portal lain.

untuk foto-foto silakan klik ini.

portal-portal ini mendapatkan kekakuannya dengan pen atau pasak. bukan dengan ikatan.
benar bahwa kontribusi ikatan dalam struktur rumah [bukan atap ya...] sekadar supaya tidak lari.

sistem struktur yang sangat sederhana ini [portal] berkaitan dengan tidak dikenalnya alat pertukangan selain parang dan kampak. tidak ada gergaji, pasah, pahat sehingga kesan rustic nampak kuat, seperti halnya mereka memperlakukan batu-batu besarnya. menurut catatan, orang sumba mengenal logal baru belakangan ketika portugis mampir ke sana! [secara arkeologis memang ditemukan nekara logam di melolo, sumba timur, yang mirip dengan tradisi dongson]

kampung raja

berada sekitar 4 km dari kambajawa [benang-jawa], tempat tinggal rudi [rudolf umbu loly].

kampung raja sekarang sudah kehilangan lapangan desanya: dibelah oleh jalan beraspal dari stadion menuju bandara mau hau.

desa ini sering dikunjungi turis maupun peneliti. antropologi, musikus [dan yang belum adalah arsitektur].

beberapa makam raja masih terlihat di tengah [bekas] lapangan desa. ada sebuah pohon beringin yang di bawahnya terdapat batu-batu besar berukir: kakaktua, buaya, babi, kura-kura, kuda, ayam…

di dekatnya tinggal rambu margaretha [istri dari tamu umbu jaka] yang punya anak 8 orang dan semuanya kuliah di yogya: AMPTA, JANABADRA, UGM [pertanian, kehutanan], AMIKOM. rumah umbu jaka inilah yang paling sering didatangi turis dan peneliti berhubung pengetahuannya luas di bidang kebudayaan sumba. salah satu anaknya [umbu njurumanna] akan menemani perjalanan kami dari ujung timur sumba ke ujung baratnya.

di rumahnya kami menonton video pemakaman raja di rende. wafatnya raja rende dihadiri oleh banyak keluarga, termasuk utusan dari kampung raja.

sebelumnya kami mengunjungi rumah raja, rumah dari tamu umbu pingiay [sekarang camat pandaway]. di rumah itu kami diterima oleh pak david panjara, wakil RW.

[wawancara direkam]

rumah raja ini bermodul 250 cm memanjang 6 trave dan melebar 4 trave. ruang depan, serupa teras [istilah setempat: bangga] selebar 250. bangga di ujung-ujungnya ditinggikan 15 cm untuk duduk raja maupun tuan rumah. tinggi bangga dari tanah sekitar 100cm dan dari bangga ke lantai rumah naik 60 cm.
interior lantainya juga ditinggikan di sisi-sisinya sekitar 15 cm untuk tidur perempuan atau tamu. lantai ini ditopang oleh struktur balok induk dan balok anak dengan jarak sekitar 60cm. balok-balok ini ditopang langsung oleh tiang-tiang utama. tiang utama ditanam dalam tanah tanpa pondasi dan menjulang hingga ke atap sehingga tiang ini menopang beban atap maupun lantai.
rumah raja menghadap timur. arah ini bukan orientasi utama karena yang penting setiap rumah menghadap lapangan desa yang di tengahnya terdapat makam raja-raja.

kebiasaan sehari-hari

sentuh hidung.
orang sumba bila bertemu akan saling menyentuhkan hidung, meskipun kebanyakan hidungnya tidaklah mancung. kesan pertama saya tentang mereka, orang di sumba timur ini ramah-ramah.

nginang
ini juga adalah kebiasaan yang dilakukan kebanyakan orang, pewaris peradaban austronesian :-)
noda bercak merah banyak dijumpai di rumah maupun jalanan sehingga di bandara ada poster yang melarang orang nginang!

tidur

malam pertama di waingapu kepala masih pusing dan perut kembung. aku turuti kemauan tubuhku untuk beristirahat. mungkin karena irama makanku terganggu sejak dari yogya [?]

aku butuh tempat tidur yang lebih leluasa untuk tubuhku agar bisa memilih posisi yang paling enak. berjam-jam duduk dalam getaran pesawat telah membikin tubuh tua ini terganggu iramanya.

tapi, di sini tempat tidurnya kecil-kecil dan berkelambu. mungkin memang ukuran tubuh orang dulu pendek-pendek? enggak. menurut rudi, tempat tidur ini dulunya bekas punya asrama anak sekolah sehingga memang berukuran kecil-kecil :-)

tidur di rumah tradisional di desa boddo ede asyik. tidak diserang nyamuk. mungkin karena nyamuknya mabok oleh bau kandang babi di bawah rumah :-) enggak laa…. nyamuknya tidak bisa menembus kelambu tempat tidur kami itu.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.