Feeds:
Pos
Komentar

rumah dan jalanan

rumah di kota waingapu tidak banyak yang memberi ventilasi leluasa. jendela kecil atau pasang AC.

telepon sering berdering, mungkin komunikasi di sini amat dibutuhkan. HP amat mudah dijumpai dan dipakai anak-anak SMA. juga VCD player, TV dan parabolanya. orang sini lebih sering nonton tv dibanding saya sendiri di yogya.

orang bepergian di sini biasa dengan ojek. juga becak ala jawa timur yang dimodifikasi: atapnya dibuat lebih menjorok untuk menudungi dari panas matahari, dan selalu diberi musik dari tape yang disupply dayanya dari aki. tidak ada musik tidak ada penumpang!

flora-fauna sumba

pepohonan di sini jarang yang berdaun lebar. kecil-kecil, mungkin karena harus menghemat penguapan.

anjing di sini jinak, tidak sengit seperti di jawa yang sering menyalak bila melihat orang asing.
babi juga banyak dipelihara dengan segala sifat joroknya.

kelambu sebagai selubung pelindung dari serangan nyamuk juga biasa dipakai di sini. ini bagus.

kami makan malam dengan ikan kombong, yang mirip dengan ikan kembung di jawa, hanya ukurannya lebih besar.

sayurannya bening dan tidak melibatkan banyak bumbu, tidak ada bumbu yang diulek. semuanya diiris. bawang merah-putih, garam, asam jawa, dan kadang ditambah kunir.
sayuran yang sering digunakan adalah daun singkong.
banyak lombok sehingga sambal terasa pedas.
sepertinya tidak ada kerumitan dalam proses memasak sehingga dapur tidak terlalu besar.

ngopi adalah kebiasaan di sini.
dan manis, mungkin pengaruh jawa.

spivak akan datang

ada undangan untuk menghadiri diskusi bersama gayatri c.spivak, nanti di sanata dharma, 4-6 maret 2006.

sambutan rekan-rekan seniman dan budayawan amat antusias. lihatlah di http://kunci.or.id/spivak/

entah mengapa masih saja memuja-muja seorang ‘diva’. masih saja haus dengan omongan orang lain alih-alih bekerja sendiri!

ke sumba

kampung_kabadd_wemoro.jpg

minggu ini kami akan ke sumba. ada data permukiman tradisional yang perlu dimutakhirkan dengan pengamatan lapangan. kami harap akan ada banyak informasi baru bagi kami mengenai permukiman peninggalan masa megalitikum ini.

secara khusus kami akan meninjau aspek tektonikanya, aspek peri bagaimana perkampungan dan rumah mereka diletakkan di atas tanah pilihan mereka, ditegakkan di tempat yang semestinya dan dirangkai semua unsur bangunannya hingga bisa dihuni dan ditinggali.

pulau sumba sumba dan savu
kami berangkat berdua: anto dan gregorius. direncanakan berangkat dari yogya selasa malam menggunakan pesawat LION AIR nomor penerbangan WI 8926 pukul 20.45 menuju denpasar. di sana akan nebeng di rumah gede. rabu siang kami terbang menuju waingapu, sumba, dengan pesawat MERPATI, nomor penerbangan M 6710, pukul 12.55. di sana kami berdua akan [kembali] nebeng di rumah rudolf umbu selama seminggu [!]

direncanakan, kami berdua akan ditemani rudolf umbu dan heribertus yang keduanya alumni arsitektur duta wacana.
kami akan kembali lagi melaporkan setelah sampai di sana [semoga saja ada koneksi internet!].

order of things

buku ini aku dapatkan sebagai hadiah atau oleh-oleh dari adikku nunung, sepulangnya dia dari sekolah di USA. karenanya buku ini aku hormati. sudah lama sekali, mungkin 10 tahunan lewat.

buku ini baru sungguh-sungguh berguna ketika aku mengerjakan tesis mengenai representasi dalam historiografi arsitektur kolonial. buku ini aku baca dengan susah payah. aku harus mengerahkan bantuan dari berbagai pihak untuk memahaminya. mula-mula, aku memang membacanya lewat orang lain dulu. baru sekarang-sekarang ini aku menghampirinya sendiri. langsung aku baca dia.

kampung adat NAGA tertutup

kampung naga

kampung adat naga di tasikmalaya menyatakan tertutup untuk rombongan maupun untuk penelitian. hal ini sudah menjadi keputusan para sesepuh mereka yang tersinggung atas protes masyarakat yang mengeluhkan biaya parkir yang dipungut oleh PEMDA setempat. sementara, masyarakat NAGA sendiri sama sekali tidak pernah menerima sepeser pun dari pungutan PEMDA itu.

lebih lengkapnya silakan klik berita dari harian pikiran rakyat, senin, 06 februari 2006 ini.

inilah bila masyarakat sudah “sadar diri” dan mampu menyuarakan suaranya. kita merindukan hal seperti ini, di antara kekerasan yang dilakukan negara atas warganya sendiri!

bandung

kota ini tersimpan dalam kenangan saya karena saya lama tinggal di sana sebagai mahasiswa.

ketika saya masuk kota ini sebagai mahasiswa, sebagian besar karena dipengaruhi oleh rekan-rekan SMA yang ingin sekolah di sana. di itb.

saya sendiri tidak punya gambaran bakal sekolah di sekolah bergengsi itu. ikut-ikutan sajalah saya mendaftar bersama rekan-rekan tadi. dan setelah diterima maka jatuh cintalah saya pada kota bikinan belanda di masa kolonialisasi ini.

alun-alun bandung 1938
kota ini meski mengambil tempat di tatar ukur [begitulah namanya dulu], suatu kawasan milik orang sunda, tapi belanda kolonial telah memilihnya sebagai tempat pertahanan bagi infrastruktur pemerintahan dan militernya. kota ini dibangun sama sekali sebagai de wite stad in de tropen. beberapa gambar kota ini di masa lalu itu dapat anda lihat dari webpage guntur guntara “bandung city homepage” [banyak hal menarik dari webpage itu, thanks untuk guntur!]. atau juga silakan kunjungi situs made in bandung.com, untuk gambar-gambar kota tadi berikut segala macam pernik tentang kota itu di masa kini.
keluar dari bandung saya kerja di jakarta dan kemudian menetap hingga sekarang di yogyakarta. di kota yang baru ini saya masih memelihara hubungan dengan alam sunda dengan sesekali mengunjungi warung indomie rebus dan kacang ijo yang banyak bertebaran di sekitar kos-kosan mahasiswa di yogyakarta. meskipun umumnya para penjual itu berasal bukan dari bandung, tapi dari kuningan, tapi lewat merekalah saya masih bisa berkomunikasi dengan bahasa sunda. ini bahasa, menurut pater brouwer ofm almarhum, adalah bahasa yang paling merdu sedunia setara dengan bahasa prancis. saya setuju dengannya.
bandung, kota barat di jawa barat ini telah menempati tempat istimewa dalam kenangan saya.